Pelatih Thailand Kiatisuk Senamuang meminta pemain supaya menganggap duel melawan Indonesia di leg pertama final AFF Suzuki Cup 2016, Rabu (14/12) malam, sebagai satu-satunya partai puncak.
Kiatisuk berharap tim besutannya dapat tampil dengan semangat tinggi, dan mengeluarkan kemampuan maksima, sehingga leg kedua di Stadion Rajamangala, Bangkok, tiga hari kemudian akan lebih mudah dijalani.
“Saya sudah minta pemain untuk menganggap pertandingan ini sebagai satu-satunya laga final dengan anggapan gelar juara akan ditentukan berdasar pertandingan Rabu [14/12],” ungkap Kiatisuk dikutip Bangkok Post.
“Memenangi pertandingan di tengah situasi menantang seperti ini menjadi target kami. Mereka [Indonesia] akan berusaha mengambil keuntungan bermain di kandang, dan saya perkirakan mereka bermain menyerang.”
Kiatisuk juga mengingatkan pemain agar menghindari pelanggaran tidak perlu yang berpotensi wasit mengeluarkan kartu kuning, atau bahkan merah. Kiatisuk berkaca dari pengalaman final Piala AFF 2002 ketika menghadapi Indonesia. Saat itu, Thailand sudah unggul dua gol melalui Chukiat Noosarung dan Therdsak Chaiman.
Setelah Indonesia memperkecil ketertinggalan lewat Yaris Riyadi, Chukiat justru diganjar kartu merah, sehingga skuat Garuda menyamakan kedudukan melalui Gendut Doni Christiawan.
“Tetap fokus, dan kepala dingin. Di final 2002, bek Chukiat Noosarung mendapat kartu merah di waktu krusial, tapi kami akhirnya menang lewat adu penalti. Kami harus menghindari insiden seperti itu,” ucap Kiatisuk.
Kiatisuk berharap tim besutannya dapat tampil dengan semangat tinggi, dan mengeluarkan kemampuan maksima, sehingga leg kedua di Stadion Rajamangala, Bangkok, tiga hari kemudian akan lebih mudah dijalani.
“Saya sudah minta pemain untuk menganggap pertandingan ini sebagai satu-satunya laga final dengan anggapan gelar juara akan ditentukan berdasar pertandingan Rabu [14/12],” ungkap Kiatisuk dikutip Bangkok Post.
“Memenangi pertandingan di tengah situasi menantang seperti ini menjadi target kami. Mereka [Indonesia] akan berusaha mengambil keuntungan bermain di kandang, dan saya perkirakan mereka bermain menyerang.”
Kiatisuk juga mengingatkan pemain agar menghindari pelanggaran tidak perlu yang berpotensi wasit mengeluarkan kartu kuning, atau bahkan merah. Kiatisuk berkaca dari pengalaman final Piala AFF 2002 ketika menghadapi Indonesia. Saat itu, Thailand sudah unggul dua gol melalui Chukiat Noosarung dan Therdsak Chaiman.
Setelah Indonesia memperkecil ketertinggalan lewat Yaris Riyadi, Chukiat justru diganjar kartu merah, sehingga skuat Garuda menyamakan kedudukan melalui Gendut Doni Christiawan.
“Tetap fokus, dan kepala dingin. Di final 2002, bek Chukiat Noosarung mendapat kartu merah di waktu krusial, tapi kami akhirnya menang lewat adu penalti. Kami harus menghindari insiden seperti itu,” ucap Kiatisuk.





